afi_logoafi_logo

Kota

Semarang

Judul

Perkara Sinema Semarang

Penulis

Khothibul Umam

Grafik Data
Semarang

Semarang sejak awal 2000-an lebih terkenal sebagai tempat syuting. Apalagi sejak produksi film nasional yang mengambil lokasi syuting di Semarang. Mulai dari kawasan Kota Lama, Kampung Melayu, hingga Pecinan. Beberapa film yang syuting di Semarang adalah Gie (2005), Ayat-ayat Cinta (2008), Soegija (2012), dan Tanda Tanya (2011).

Namun, popularitas Semarang terbatas pada lokasi syuting semata meresahkan beberapa pegiat komunitas film lokal. “Semarang harus menemukan identitasnya, jangan hanya jadi lokasi syuting”, begitulah kata Anto Galon, nama populer dari Sugiyanto. Ia sendiri berkiprah di dunia film sejak ikut casting film Merah Putih pada 2009.

Dari persinggungan dengan produksi film nasional di Semarang itulah, Anto akhirnya berani terjun ke dunia sinema, khususnya industri film pada 2009. Sempat pindah ke Jakarta setelah Merah Putih (2009), ikut casting sana-sini dengan hasil nihil selama 3 bulan. Ia justru mendapat peruntungan melalui sinetron dan iklan, yang mendekatkan dia ke industri hiburan. Ia mendapat peran untuk film layar lebar, seperti di Tanda Tanya (2011), Soekarno (2013), dan Jenderal Soedirman (2015). Namun, Anto tidak merasa puas. “Rak terkenalterkenal”, katanya, alias lama terkenalnya. Berangkat dari rasa frustrasi, ia belajar secara otodidak perihal pekerjaan-pekerjaan di balik layar, terutama di ranah penyutradaraan.

Kura-kura terbang_ProduksiBW

Kura kura terbang Produksi

Pilihannya menjadi sutradara mungkin memang tepat. Filmnya yang berjudul Kau adalah Aku yang Lain (KaAyL) menjuarai Police Movie Festival keempat pada 2017. Nama dia melambung lantaran film tersebut viral karena dianggap melecehkan Islam. Beberapa politisi nasional sekaligus anggota partai merespon dengan mempertanyakan kenapa panitia Police Movie Festival memenangkan film pendek tersebut. Menurut mereka, KaAyL membuat representasi dan citra Islam menjadi sangat buruk dalam adegan film tersebut. Di sisi lain, karya Anto pun juga ada pembela. Meski menyajikan adegan ada golongan umat Islam yang berlaku tidak toleran, jika dilihat dalam pespektif yang lebih luas film tersebut menunjukkan kemenangan rasionalitas, humanitas, dan kepedulian umat Islam kepada sesama manusia meskipun berbeda keyakinan. Peristiwa itu juga yang akhirnya membuat Anto kembali ke Semarang guna menghindari panas tensi politik di Pilkada Jakarta 2017.

Pada 2018 ia membuat rumah produksi yang bernama Tuk Film. Tuk Film banyak menggarap proyek pesanan dari institusi pemerintah, seperti video promosi dan iklan layanan masyarakat. Kemudian ia tergerak untuk membentuk Komunitas Tuk. “Ya, untuk mewadahi teman-teman yang pingin belajar film”, katanya. Rumah produksi tetap jalan guna menyubsidi silang komunitasnya. Bentuk subsidi silangnya berupa penggunaan alat secara gratis untuk komunitas tersebut. Menurut Anto, komunitas film sangatlah penting untuk ekosistem perfilman di Semarang. Apalagi jika ada unsur semangat dan sadar pada potensi yang dimilikinya, dua resep yang membuat komunitas film akan terus bertahan. Dua resep tersebut juga yang akhirnya membuat beberapa eksponen yang pernah ada di Tuk Film untuk membuat sendiri komunitas produksi film di luar Tuk Film. Anto sendiri pun mendukung hal tersebut. Menurutnya semakin banyak komunitas film maka eksosistem film Semarang akan semakin bagus. Dengan semakin banyak kegiatan perfilman maka akan semakin dinamis juga iklim perfilmannya.

Kkeane V2_2022

Kkeane V2_2022

Perkara berkomunitas film ini mungkin agak berbeda menurut Haris Yulianto, seorang sineas Semarang. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, dua filmnya tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Haris memilih cara yang berbeda. Ia lebih suka kumpulan film yang cair, yang nongkrong, dan disebutnya “kelompok produksi”. Bahkan Haris mengaku tidak percaya diri menyebut ‘kelompok produksinya” sebagai komunitas film. Terlepas soal istilah, “kelompok produksi” buatan Haris ini termasuk intens berproses. Salah satunya adalah dengan sering menggelar “latihan syuting”. Ia mengajak rekan-rekannya, baik teman lama maupun sesama pegiat film di komunitas lain untuk “latihan syuting”. Tujuannya adalah jika sewaktu-waktu ada produksi serius maka para kerabat kerjanya akan siap berproduksi.

Di sisi yang lain, gaya berkomunitas film yang berbeda ditunjukkan oleh Tatang Agus Riyadi alias Tangsky. Ia kenal dunia sinema secara intens ketika berkegiatan di UKM Elkasinematografi Universitas PGRI Semarang. Pada 2019 ia membentuk Sarekat Kine, yang beranggotakan mantan aktivis sinema kampus lainnya, seperti Dimec Tirta, Arga, dan Fendi. Awalnya Sarekat Kine fokus ke ekshibisi film, seiring perjalanan waktu mereka juga membuat dokumenter musik, yaitu Dimensional Journey: Tridhatu (2019) karya Dimec Tirta dan Kamisenang: Folkumentary Manjakani (2019) karya Tangsky.

Selain itu, Tangsky juga menginisiasi Kkeane Film pada masa yang sama dengan Sarekat Kine. Semangat DIY alias Do it Yourself begitu kental pada tiap produksi Kkeane Film. Persinggungan Tangsky dengan skena musik punk dan underground yang kental dengan perilaku mandiri dan “lakukan sendiri” dibawa ke corak produksi Kkeane Film. Pada 2022 ini Kkeane Film membuat On the Way Loving You, produksi kolaborasi Semarang-Salatiga. Tangsky sendiri mengaku selektif memilih proyek kolaborasi dengan pihak lain. Jika merasa tidak cocok, dari selera artistik misalnya, maka ia cenderung menolak.

Kkeane_2022

Kkeane_2022

Yang menarik, Kkeane Film bertahan berkat pencairan Jaminan Hari Tua Tangsky pribadi yang di dapat dari tempat kerjaan lamanya. Selain itu Tangsky paham hitungan dari hulu sampai hilir berapa biaya produksi filmnya. Otomatis semua biaya produksi ia tanggung sendiri. Hal ini dipilih karena ia mengaku belum menemukan model pendanaan yang betul-betul membebaskan konsepnya. “Punya film dibikin tur kayak band itu enak. Punya kenalan baru, bisa ketawaketawa, membentuk jejaringlah. Ya gak salah juga ikut festival, tapi aku lebih mengutamakan layar alternatif sih. Jadi ya kebutuhan uang selama aku masih bersiasat memproduksi dengan biaya sendiri melalui kerja di korporasi, ya aku masih meninggalkan pitching dan funding”, cerocosnya.

Nada yang agak berbeda dilontarkan oleh Anto Galon. “Kita harus jujur ya, setiap produksi film kita butuh dana, tapi (minim) dana tidak bisa mematikan kreativitas kita”, katanya. Untuk menyiasati pendanaan film, Anto mengaku lebih sering menerima job film, baik dari pemerintah maupun swasta, daripada membuat film idealis dengan dana sendiri.

Versi lain dari Haris ketika membuat film di Semarang adalah akses terhadap lokasi syuting yang kadang ribet. Butuh penyesuaian tertentu dengan produksi kecil dan dana terbatas. Untuk pendanaan kadang Haris lebih nyaman berkolaborasi atau mencari pendanaan dari luar Semarang seperti ketika mendapatkan pendanaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi untuk filmnya yang berjudul The Secret Club of Sinners (2021). Pengalaman mendapatkan dana pemerintah kota malah membuat Haris merasa “tidak sehat”. Ini terkait skema turunnya dana dari pemerintah yang menuntut adanya produk dan laporan terlebih dahulu. Jadi penerima dana harus mengusahakan dana talangan untuk produksi.

SIDAMAR_PRODUKSI FILM A BOULDER_2021BW

SIDAMAR_PRODUKSI FILM A BOULDER_2021

Selain ketiga sineas di atas, Semarang juga mempunyai darah muda dalam sosok komunitas SiDamar [Sineas Muda Semarang]. Pendirinya adalah duo Faris Amar dan Ikhlasul Haq. Awalnya mereka berdua aktif di ekstrakurikuler film di SMAN 2 Semarang (Smanda Movie Society). Mereka semakin jatuh cinta pada film ketika menang Gelar Karya Film Pelajar dengan film Kritis yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—yang kini berganti nama menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi—pada 2019.

Kemenangan mereka dalam Gelar Karya Film Pelajar 2019 membuat mereka semakin serius dengan dunia sinema. Kepalang tanggung, Faris melanjutkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta dan Ikhlas kuliah di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Mereka mengambil program studi Film. Sembari kuliah secara daring selama pandemi COVID-19, mereka mendirikan SiDamar pada 30 Maret 2021. Tidak hanya alumni SMAN 2 Semarang, SiDamar juga berisi kolega lama mereka sesama pegiat ekstrakurikuler sinema dari sekolah lain di Semarang. Akhirnya SiDamar menjadi jejaring sineas pelajar dan mantan sineas pelajar.

Salah satu andalan SiDamar di ranah ekshibisi sadalah program Layar Tancap. Film yang diputar adalah film-film lokal yang sebisa mungkin filmnya dekat dengan kehidupan masyarakat di mana acara Layar Tancap diselenggarakan. Layar Tancap ini diselenggarakan di kampung-kampung dengan tujuan agar film tidak hanya eksklusif dinikmati oleh para pengemar film fanatik. Panitia penyelenggara menyebarkan brosur sambil keliling kampung naik kereta mini. Setelah pemutaran ada permainan dengan berbagai macam hadiah.

SIDAMAR_Screening BioskopLaunching Karya_2022

SIDAMAR_Screening BioskopLaunching Karya_2022

Dari keempat sineas di atas, tiga orang (komunitas) mengambil jalan dan riwayat yang hampir sama. Haris, Tangsky, dan SiDamar (duo Faris dan Ikhlas) sama-sama belajar dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah/kampus. Dari klub sinema ekstrakurikuler ini kecintaan dan hasrat mereka pada sinema terus tumbuh. Dengan demikian, kita tidak bisa menafikan komunitas film sekolah/ kampus sebagai sumber pegiat film di Semarang. Tanpa sekolah/kampus, sulit membayangkan komunitas film Semarang akan terus ada. Khusus untuk Anto Galon adalah kasus yang unik. Ia bukan pegiat ekstrakurikuler film saat sekolah. Karier seninya dibangun sejak SMP saat ia bergabung dengan Teater Lingkar. Kembalinya Anto ke Semarang setelah lama merantau ke Jakarta tentu saja membuat pilihan dan gerakannya dalam sinema agak berbeda dengan sineas lain.

Perkara Corak dan Ekshibisi Film di Semarang

Membicarakan ekshibisi film di Semarang tentu saja harus membahas Sineroom. Sineroom didirikan pada tahun 2015 oleh Ardian Agil dan Erma Yuliati. Mereka bertemu ketika sama-sama menjadi relawan Kelas Inspirasi di Semarang. Kelas Inspirasi ini berawal dari Gerakan Indonesia Mengajar dan beberapa profesional yang peduli pada pendidikan di Indonesia. Mereka membentuk Kelas Inspirasi, di mana para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar anak-anak SD, yaitu pada Hari Inspirasi.

Kesamaan kegemaran Ardian dan Erma pada film dan keluhan betapa sulitnya akses film Indonesia membuat mereka sepakat untuk membentuk Sineroom. Menurut Ardian, di Semarang pada 2015 ia relatif sulit mengakses film-film Indonesia, terutama yang independen dan tidak masuk bioskop. Bisa jadi hal ini karena saat itu Ardian dan Erma belum mempunyai jejaring yang kuat terhadap para pembuat film. Dari situlah ide Sineroom muncul. Dari pada pusing karena tidak ada akses, kenapa tidak membuat kelompok ekshibisi sendiri. Setelah Sineroom terbentuk, barulah mereka berjejaring dengan sineas dan produser untuk akses penayangan film mereka di Sineroom.

Resep eksistensi Sineroom selama 7 tahun lebih adalah karena pegiatnya sudah domisili tetap di Semarang. Selain itu Sineroom mempunyai program yang konsisten. Minimal selalu ada acara pemutaran tiap bulannya terkecuali pada masa pandemi COVID-19. Corak ekshibisi Sineroom adalah pemutaran film dan dilanjutkan dengan diskusi. Diskusinya sendiri belum tentu dengan sineasnya, tapi bisa jadi dengan ahli di bidang tertentu, disesuaikan dengan tema dan isu film yang bersangkutan.

Ada pula program Rasansinema, di mana yang dibahas adalah ekosistem film secara luas. Baik produksi, distribusi, apresiasi, hingga kritik film. Selanjutnya ada Suarasinema, yaitu pemutaran film yang dipadukan dengan konser musik. Style film pilihan Sineroom adalah film-film independen dan yang teruji dengan sudah memenangkan penghargaan. Untuk hal ini Tangsky punya pendapat lain. “Kelebihan Sineroom adalah konsisten dengan pilihan film yang “ramah”, suatu hal yang tidak dimiliki oleh ekshibitor lain”, katanya. Ramah di sini menurut Tangsky adalah film yang mudah diterima oleh penonton, baik dari sisi cerita maupun gambar. Untuk penontonnya sendiri, ragam penonton Sineroom adalah pekerja, mahasiswa, dan pelajar. Rekor penonton Sineroom pecah saat memutar Prenjak (2016) karya Wregas Bhanuteja dengan dua kali pemutaran hingga berjumlah 200 penonton di Museum Ranggawarsita.

Dengan segala program tadi, kiprah Sineroom tentu saja tidak lepas dari kritik. Hal yang wajar mengingat mereka “hampir” sendirian menjadi ekshibitor di Semarang. Berbagai macam ekshibitor lain di Semarang tidak ada yang sekonsisten Sineroom. Di sisi lain, segelintir orang menganggap Sineroom tidak cukup mendukung karya-karya sineas Semarang. Pendapat berbeda dilontarkan Tangsky dan Faris. Bahwa pilihan memutar film-film karya komunitas Semarang adalah sepenuhnya kebijakan penyelenggaranya dan disesuaikan dengan visi misinya. “Toh, ketika bikin Semarang Gawe Film dengan Pemerintah Kota Semarang itu merupakan bukti bahwa mereka (Sineroom) juga peduli dengan film Semarang”, kata Faris. Sementara itu, Ardian sendiri beralasan karena film sineas Semarang tidak banyak yang berkualitas. Ardian tidak secara rinci menjelaskan bagaimana kriteria sebuah film bisa diputar di Sineroom. Sebagian film yang ia pilih karena cocok dengan selera pribadi.

Kura-kura terbang_Produksi V3

Kura-kura terbang_Produksi V3

Kolaborasi Sineroom dengan pemerintah kota Semarang tersebut adalah program mutakhir mereka di 2022. Kolaborasi pertama dengan pemerintah tersebut juga sebenarnya hal yang “kebetulan”. Ia ada berkat relasi individual antara Sineroom dan staf di pemerintah, yang punya akses terhadap pendanaan sehingga ia dapat menawarkan kerjasama dengan pihak luar. Skema kerjasama dengan model tersebut tentu saja sangat rentan karena ketika sosok tersebut sudah tidak mempunyai akses maka di masa depan kerjasama dan kolaborasi sulit terjadi lagi. Namun, Sineroom juga tampak tidak peduli. Ardian mengakui hal tersebut dan menganggap bahwa dari situ terjadi deal win-win solution. “Kami menawarkan program, mereka menyediakan dana dan fasilitas”, kata Ardian.

Selain Sineroom, di Semarang juga muncul ekshibitor baru yang berawal dari kegiatan kampus. Ekshibitor ini muncul karena ada tugas kuliah terkait ekshibisi film. Yang bertanggungjawab atas hal ini adalah Annisa Rachmatika Sari. Annisa sendiri adalah dosen Program Studi Film dan Televisi, Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Ia mengampu mata kuliah Desain Ekshibisi Film. Dari mata kuliah tersebut dibuatlah beberapa kelompok ekshibisi, salah satunya Kineus. Dari Kineus ini lahirlah Sudahkah Anda Menonton, suatu kelompok ekshibisi independen di luar administrasi kampus. Kineus karena masih dalam lingkup kampus maka mendapatkan berbagai macam fasilitas dari kampus. Berbeda dengan Sudahkah Anda Menonton yang harus berusaha sendiri untuk pendanaan dan fasilitas. Namun karena beberapa anggota Sudahkah Anda Menonton adalah anggota Kineus maka mereka kadang memanfaatkan fasilitas kampus secara gerilya. Usaha-usaha yang diinisiasi Annisa tadi, meskipun memang bagian dari tugas kuliah, menjadi sumbangsih yang penting dan memberi warna bagi ekosistem ekshibisi film Semarang.

SIDAMAR_Layar Tancap KekinianLayar Tancap Bulu Lor_2022

SIDAMAR_Layar Tancap KekinianLayar Tancap Bulu Lor_2022

Menurut Annisa, ekshibitor di Semarang harus punya basis ekonomi yang kuat, dalam artian mempunyai pendapatan sehari-hari dari luar film karena ekshibisi film belum menjadi pilihan profesi, alias ekshibisi di Semarang masih taraf apresiasi, belum taraf bisnis. Belum memberikan pemasukan yang pasti kepada para penggiatnya. Hal ini mungkin cukup menjawab kenapa Sineroom bisa bertahan 7 tahun karena kedua pendiri Sineroom (Ardian dan Erma) adalah pegawai kantoran yang tentu saja basis ekonominya lebih kuat jika dibandingkan dengan para ekshibisitor lain yang rata-rata masih mahasiswa. Praktik yang dilakukan oleh Ardian dan Erma dengan Sineroom tentu saja bukan tanpa kritik. Usia 7 tahun tentu bukan usia yang singkat bagi komunitas ekshibisi film di Semarang. Namun profesi mereka yang lain di luar dunia film tentu saja banyak menyita perhatian. Sehingga kritik yang sering dialamatkan pada Sineroom adalah persoalan teknis ekshibisi yang terbengkalai karena kesibukan Ardian dan Erma.

Selain itu, Annisa juga menyoroti perihal ekshibisitor Semarang yang abai pada aspek teknis pemutaran dan kedisiplinan waktu. “Memutar film itu ada beberapa yang harus dijaga, yaitu filmnya, sineas, penonton, sistem (organisasi), teknis. Ekshibitor di Semarang masih jarang yang menjaga hal tersebut”, katanya. Kesemuanya tidak bisa dipisah, harus satu kesatuan karena saling terkait satu sama lain.

Kuantitas Dulu Aja, Nanti Kualitas Mengikuti

Dengan segala dinamikanya sebagai ibukota provinsi dan kota dagang/jasa, Semarang harus berusaha menjadi kota yang penting untuk sinema Indonesia. Semarang sebagai “pilihan eksotis untuk syuting” para pembuat film dari Jakarta memang tidak menjadi masalah. Bahkan hal tersebut bisa menjadi keuntungan. Misalnya dengan magang saat ada produksi film nasional hingga mendapatkan jejaring ke ranah industri film dan transfer ilmu terkait kecakapan teknis.

Kura-kura terbang_Produksi V2

Kura-kura terbang_Produksi V2

Perihal kecakapan teknis yang kurang ini juga menjadi pandangan Annisa terkait sineas Semarang. Akhirnya corak pendekatan sineas Semarang lebih menekankan pada pendekatan isu dan tema daripada eksplorasi teknis. Asumsi Annisa terkait hal ini adalah belum mapannya infrastruktur pendidikan seni film di Semarang. “Yang tidak tampak di pembuat film Semarang adalah kedekatannya dengan (pegiat) seni yang lain”, kilahnya. Dalam hal ini, Annisa membandingkan Semarang dengan Yogyakarta dan Solo, dua kota di mana ia menyelesaikan kuliahnya dan aktif berkomunitas sebelum balik ke Semarang. Di kedua kota tersebut, menurut Annisa, para pegiat film sangat lumrah berkolaborasi dengan pegiat seni lain. Hal ini tidak lepas dari banyaknya pegiat dan institusi seni yang berada di dua kota tersebut.

Itulah kenapa menurut Faris corak film Semarang ada yang pesisir banget seperti si Haris. Setidaknya 3 filmnya terakhir selalu membicarakan laut atau pantai. Hal yang tidak mengherankan sebenarnya mengingat latar belakang Haris yang memang asli pesisir Semarang. Itulah kenapa akhirnya latar belakang sineas menentukan pilihan artistik dan estetika karya. Hingga akhirnya ada beberapa yang menampilkan aspek lokalitas, baik budaya maupun latar. Menurut Tangsky, “sineas Semarang tahu porsi. Lokalitas bisa disajikan lewat dialog dan dialek, namun gagasan tetap isu nasional”. Contoh isu nasional ini seperti yang dilakukan oleh Haris, di mana ia membawa isu antikorupsi dengan menampilkan lanskap lokal Semarang.

Di sisi lain, munculnya berbagai macam rumah produksi dan komunitas film lokal selama lima tahun terakhir membuat geliat sinema Semarang menjadi menarik. Mengutip dari Darmanto Jatman bahwa anak muda Semarang harus mempunyai strategi budaya yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia yang lebih mapan iklim budayanya. Strategi tersebut adalah strategi “kantong budaya”, di mana diharapkan muncul karya yang bernas dan tidak mengekor lagi pada generasi tua.

Strategi kantong budaya ini masih sangat relevan untuk era sekarang. Pun dalam konteks film atau sinema Semarang. Asumsinya adalah dengan makin banyaknya komunitas film, baik produksi maupun ekshibisi, maka semakin maraklah dunia sinema Semarang. Setidaknya awali dengan kuantitas terlebih dahulu. Harapannya kualitas mengikuti. Semakin banyak komunitas maka timbul persaingan. Iklim sinema lokal akan dinamis, dan Semarang tidak sekadar menjadi tempat jujugan syuting orang-orang Jakarta.


Karya-karya pilihan kota

Semarang

Film tidak lagi dapat diakses karena telah ditayangkan pada Apresiasi Film Indonesia periode tahun 2022.

JBSS_ISI_1920-1080-Semesta K.S
Kata_Rupiah_1920-1080- Emilio Wiwanda
bersepeda-ke-bulan-thumbnail-master
the-last-sunset-thumbnail-master

© 2023 Apresiasi Film Indonesia. All Rights Reserved. Bekerjasama dengan Cinema Poetica dan Rangkai.