afi_logoafi_logo

Kota

Malang

Judul

Menerka Pergerakan Komunitas Film di Malang

Penulis

Nashiru Setiawan

Grafik Data
test
test
test
test
test
test
test
test
test
Malang

Warung kopi kini menjadi pemandangan biasa di berbagai sudut Kota Malang. Titik temu dan ruang dialog para komunitas film seiring waktu juga berpindah ke sana. Didukung oleh iklim mengobrol yang sudah ada, warung kopi begitu tepat untuk budaya rasan-rasan. Meski dianggap berkonotasi negatif, yakni sebagai kegiatan membicarakan orang lain, rasan-rasan masih berperan sebagai ajang saling koreksi dalam kegiatan perfilman di Malang.

Taufan Agustian, sutradara Darah Biru Arema (2015), menyebut rasan-rasan dapat menjadi barometer kondisi perfilman di Malang. Ia meyakini bahwa ekosistem perfilman di Malang masih bisa dikatakan sehat ketika kultur rasan-rasan ini masih ada. Kultur rasan-rasan memungkinkan komunitas-komunitas film, baik secara kolektif maupun personal, untuk saling memberi masukan dan berbagi update mengenai perkembangan perfilman di Malang dengan satu sama lain.

“Bahas produksian juga. Misalnya ketika suatu produksi film memiliki sistem yang buruk atau bahkan merugikan kru produksi, mulai dari sajian makanan yang kurang layak, jam kerja yang molor, sampai upah yang minim, semua menjadi pembahasan,” ucap Taufan.

Budaya rasan-rasan mungkin dibenci, tapi pada saat bersamaan juga dirindukan komunitas film di Malang. Tak hanya bersifat negatif, dialog di warung kopi juga bisa produktif, seperti yang terjadi pada proses pembuatan film Darah Biru Arema. Kegiatan kolaborasi seperti pemutaran film tak jarang juga diinisiasi dari warung kopi, seperti yang dilakukan oleh Lensa Mata lewat bebagai kegiatannya di Malang Meeting Point.

Lingkungan Pendidikan sebagai Rahim Perfilman

Kine Klub Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bisa dikatakan sebagai komunitas film paling awal yang ada di Malang. Komunitas ini hadir pada tahun 1999 dengan dilandasi oleh dorongan yang sama akan ketertarikan mahasiswa terhadap film. Menurut Arfan Adhi Perdana, kehadiran film di kampus UMM awalnya dibawa oleh salah satu mahasiswa yang memiliki jaringan pertemanan dengan teman-teman dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Salah satu kegiatan Malang Film Festival 2018 yang diselenggarakan oleh
Kine Klub Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Salah satu kegiatan Malang Film Festival 2018 yang diselenggarakan oleh Kine Klub Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Selain Kine Klub UMM, belakangan ini muncul beberapa komunitas serupa, seperti Societo Sine Klub dan Nol Derajat di Universitas Brawijaya, Organisasi Sinematografi Indie (OSI) di STT Malang, dan Sineas Merdeka (Sinedek) di Universitas Merdeka Malang. Komunitas-komunitas kampus tersebut cenderung memiliki bentuk yang sama—kegiatan mereka mencakup produksi, apresiasi, pemutaran, penyelenggaraan festival film, dan pembentukan jejaring baru. Sebagai contoh, Kine Klub UMM, memiliki program produksi film diklat, produksi film bersama, serta penyelenggaraan Malang Film Festival.

Selain lewat komunitas-komunitasnya, lembaga pendidikan di Malang juga mulai menyediakan pendidikan formal yang secara khusus mengajarkan film. Di Fakultas Vokasi Brawijaya terdapat program studi Film dan Broadcasting. Selain itu, pada tingkat sekolah menengah kejuruan, jurusan perfilman ada di SMK Negeri 3 Batu dan SMK 5 Muhammadiyah Kepanjen.

Kegiatan perfilman di lembaga pendidikan tersebut secara rutin menghasilkan karya-karya film yang dapat ditonton oleh masyarakat luas. Kerja sama antara SMK 5 Muhammadiyah dengan Kelas Film yang diinisiasi oleh Paradise Picture menghasilkan produksi film Darah Biru Arema. Film yang mengangkat dinamika para Aremania ini telah ditayangkan di beberapa tempat, salah satunya di UMM Dome dengan jumlah penonton mencapai tiga ribu orang lebih—sebagian besar adalah simpatisan Aremania. Selain itu, SMK Negeri 3 Batu juga telah beberapa kali mencatatkan film-filmnya sebagai nominasi dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat sekolah.

Tidak bisa dimungkiri bahwa lingkungan pendidikan memang merupakan rahim bagi lahirnya komunitas-komunitas film di Malang. Komunitas yang berjalan di luar kampus pun, seperti Lentera Sinema Mandiri Malang Kota (Lensa Mata) yang didirikan oleh Arief Akhmad Yani pada tahun 2004, telah lebih dulu berproses dari dalam kampus. Lensa Mata hadir mengisi kosongnya lini ekshibisi film di skena komunitas yang kala itu didominasi oleh kegiatan produksi. Masa paling aktif Lensa Mata bisa dibilang adalah ketika mengelola ruangan bernama MAMIPO (Malang Meeting Point), sebuah tempat pameran foto yang salah satu ruangannya disulap menjadi ruang pemutaran dengan nama program MISI (Minggu Apresiasi).

Produksi Film Memorial oleh Kjokkenmoddinger Studio di 2019

Produksi Film Memorial oleh Kjokkenmoddinger Studio di 2019

“Melalui kegiatan-kegiatan yang bekerja sama dengan teman-teman dari Yogyakarta dan Jakarta, Lensa Mata menawarkan beragam bentuk film, sehinga kemudian terciptalah ruang literasi dan pengetahuan bagi penonton atau filmmaker di Malang,” kata Arfan.

Kampus sebagai potensi munculnya komunitas film juga menjadi sasaran beberapa institusi dan filmmaker dari luar Malang untuk mengadakan kegiatan film, seperti screening atau workshop. Pada tahun 2012, di UMM telah diadakan pencarian bakat LA Indie Movie 2012, yang memunculkan nama-nama seperti Mahesa Desaga sebagai sutradara dan Wilhy Bara sebagai soundman. Lewat ajang tersebut, mereka memproduksi film pendek berjudul Jumprit Singit (2013) yang gaung filmnya terdengar sampai ke beberapa penyelenggaraan festival film di Indonesia.

Dinamika komunitas film di kampus memengaruhi kegiatan perfilman di Malang dengan melahirkan SDM yang melanjutkan aktivitasnya di luar kampus. Meskipun demikian, tidak jarang komunitas film harus gulung tikar karena tuntutan nafkah. Beberapa di antaranya mulai bekerja kembali sebagai tukang syuting manten atau produk audiovisual lainnya.

Pada tahun 2018, intensitas kegiatan komunitas ekshibisi Lensa Mata, misalnya, mulai menurun setelah Arief Akhmad Yani lebih banyak berkegiatan di luar Malang. Beberapa pemutaran hanya diselenggarakan secara spontan, misalnya acara nobar film Seperti Dendam, Rindu Harus di Bayar Tuntas (2021). Padahal sebelumnya, pemutaran-pemutaran yang dilakukan Lensa Mata terprogram dengan baik. Di antara sejumlah kegiatannya, mungkin yang paling berkesan adalah pemutaran dengan format layar tancap bertajuk Restorasi Ingatan pada tahun 2018. Bekerja sama dengan Indonesia Old Cinema Museum, Lensa Mata menayangkan Bayi Ajaib versi seluloid. Tercatat, kurang lebih ada 150 penonton yang hadir.

Saling Silang Komunitas Film Malang

Komunitas kampus memiliki kecenderungan dalam pola kerjanya yang sama, yakni berkomunitas untuk menjalankan program kerja tahunan. Mereka membuat program, merekrut anggota dari kalangan mahasiswa, dan melanjutkan program yang telah dibuat oleh pendahulu mereka. Anggota mereka kebanyakan adalah mahasiswa yang tertarik atau baru belajar soal film. Sementara pemutarannya secara umum dihadiri oleh sesama mahasiwa dan pelajar. Kurang lebih begitulah gerak-gerik komunitas-komunitas film kampus di Malang.

Di samping komunitas, ada lembaga formal seperti Dewan Kesenian Malang selaku perpanjangan tangan pemerintah Kota Malang. Lembaga ini memiliki ruang kegiatan yang bisa dimanfaatkan oleh berbagai bidang kesenian. Akan tetapi, untuk bidang film, Dimas Novib sebagai ketua di kepengurusan yang baru, menyatakan bahwa mereka hanya mengadakan pemutaran dan belum pernah produksi. Pemutaran film dilakukan di halaman DKM. Karakter penonton yang hadir saat mengadakan pemutaran film kebanyakan berasal dari masyarakat sekitar

Produksi Film Rencana Rencana oleh Mata Mata Films di 2022

Produksi Film Rencana Rencana oleh Mata Mata Films di 2022

Bentuk formal lainnya adalah kegiatan film seperti yang dilakukan oleh Vicky Arief dan Agus Setiawan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, yang merupakan lokasi ekonomi khusus digital di Jawa Timur. Lewat ruang ini, keduanya ingin mendorong ekosistem film dan animasi menjadi lebih baik. Vicky Arief juga memulai kegiatan film dari lingkungan kampus UMM dan sempat menjadi ketua Kine Klub UMM. Kemudian, ia membentuk Paradise Picture— rumah produksi yang menjadi kendaraan berjejaringnya di luar kampus. Sementara Agus Setiawan mengenal film animasi ketika berada di SMK Negeri 4 Malang Jurusan Animasi dan memulai membangun jaringan animasinya melalui alumni. Vicky dan Agus melihat keberadaan komunitas film di Malang belum berorientasi pada industri. Inilah alasan yang mendorong mereka untuk membentuk industri film di Malang lewat KEK Digital Singhasari.

Produksi Web Series Sampai Nanti oleh Equator Cinema di 2023

Produksi Web Series Sampai Nanti oleh Equator Cinema di 2023

Lantas, bagaimana dengan pemerintah Kota Malang sendiri? Menurut Arfan, pemerintah tampak kesulitan mendefinisikan kegiatan film. Hingga kini belum ada langkah stratetegis yang jelas dalam mengembangkan perfilman. Kota Malang belum benar-benar membuka peluang yang konkret, dan hanya memunculkan jargon-jargon yang mengatasnamakan ekonomi kreatif. Anggaran yang ada juga seakan belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Ketika ada orang dari luar Kota Malang yang datang untuk syuting film di sini, regulasi pemerintah harusnya bisa digunakan untuk kepentingan para pekerja film di Malang,” ucap Arfan.

Beda dengan Arfan, Vicky melihat pemerintah cukup membantu. Sebagai orang yang pernah bekerja sama dengan pemerintah atau kedinasan, seperti untuk penyelenggaran Festival Film Malang 2016 dan 2017, Vicky meyakini bahwa pemerintah bisa diajak untuk berdialog terkait kegiatan perfilman di Malang. Upayanya untuk membuka ruang kerja sama dengan pemerintah ini pun telah dilakukannya sejak berkegiatan di UKM Kine Klub UMM.

“Saat banyak komunitas film di Malang belum mau mengarah ke sana, saya sudah melakukannya. Beberapa kegiatan mendapat dukungan, dan relasi itu tetap berlanjut hingga hari ini,” ucap Vicky.

Di luar itu semua, ada pula berbagai komunitas film yang memiliki banyak rencana tapi belum memiliki inisiatif yang mandiri. Menurut Arfan, banyak di antara komunitas film masih pragmatis dan bergantung pada program pitching atau bantuan dana produksi. Sejauh ini mungkin hanya Hisstory Film yang bisa membagi peran untuk menghidupi komunitasnya dengan mengerjakan beberapa proyek yang dinamai proyek Rotasi.

Produksi film Tidak Mati, Aku Tetap Menjadi Milikku Selalu oleh Meraki Visual di 2023

Produksi film Tidak Mati, Aku Tetap Menjadi Milikku Selalu oleh Meraki Visual di 2023

Tanpa ada pendanaan yang pasti, komunitas film biasanya bergerak dengan kultur gotong royong. Model gotong royong ini sudah sering terjadi, seperti pada produksi webseries Sinar (2022) produksi Outline – salah satu rental alat film di Malang (2022), Memoar (2021) dan Ghulam (2021) yang berisikan kru profesional tapi bekerja atas asas kekaryaan—pendanaan dilakukan secara mandiri atau patungan. Mengingat fondasinya adalah dorongan kekaryaan, bisa ditebak bahwa diskusi selama produksi akan berlangsung secara alot, karena setiap orang memiliki hak untuk bersuara. Selain itu, asas gotong royong juga tidak memberi jaminan penuh untuk keberlangsungan komunitas.

Seperti warung kopi di Malang, di mana pengunjung bisa datang dan pergi kapan saja, komunitas film juga bergantian lahir dan gugur. Begitulah dinamika aktivitas film di Malang. Pada tahun 2017, Arfan merasakan banyak sekali kegiatan film di Malang. Untuk program ekshibisi, ada Lélakon dengan Lintang Aulia sebagai pengelola, Gambar Obah yang didirikan oleh Mahesa Desaga dan Melati Fajri, hingga Rollab UB dan kolektif Parade Film Malang yang diinisiasi oleh Astu Prasidya. Sementara itu, dalam hal produksi film di Malang, ada program Sinau Dokumenter dengan sasaran peserta siswa SMA dan SMK serta program pitching dan funding Sine Act dari Equator Cinema.

Rata-rata program tersebut berjalan singkat. Mungkin hanya Parade Film Malang yang terselenggara paling lama yakni, sejak 2016 sampai 2019. Kesan yang ditinggalkan oleh Parade Film Malang ini juga cukup kuat. Pasalnya, selain ekshibisi film, mereka sesungguhnya juga berupaya mengadakan program pendanaan untuk produksi film. Salah satu karya yang lahir dari program ini, Begal (2018), juga telah didistribusikan di berbagai kegiatan pemutaran film.

Menuju Industri Film, Jalan yang Masih Samar

Sejauh ini, hanya ada satu film panjang asal Malang yang pernah teruji di publik dengan tayang di bioskop. Film tersebut adalah Satu Jiwa untuk Indonesia: Darah Biru Arema 2 (2018), yang diproduksi oleh teman-teman komunitas dengan modal nekat. Sebagai produser, Vicky saat itu memang bersikeras agar filmnya dapat tayang di bioskop. Ia juga sekaligus mencoba untuk merintis suatu model bisnis, yang diakuinya tidak mudah.

Sebagai sutradara, Taufan pun merasa, proses pembuatan film panjang pertamanya terbilang konyol. Saat itu ia bahkan tidak tahu bagaimana mengembalikan modal dengan valuasi sekitar 2 miliar. Ia merasa bahwa saat itu sulit untuk mendapat keuntungan di bioskop, karena industrinya masih dikuasai oleh segilintir orang yang memiliki modal, akses, dan privilese. Efeknya, hasil yang diperoleh oleh film bisa dibilang tidak memuaskan.

“Saat bikin film panjang pertama, saya akui saya tidak memiliki peta bisnis film, bagaimana itu didistribusikan ke bioskop, dan sebagainya,” ucap Taufan.

Dari segi sumber daya manusia, Taufan menyebut bahwa penggawa komunitas di Malang mampu membuat film untuk industri. Film-film Malang pun menurutnya sudah memiliki kekhasan, yakni kecenderungan bahasanya yang eksplosif, entah pada dialog atau shot-nya. Kecendrungan ini, menurutnya punya kedekatan dengan karakter kesenian ludruk—sebuah kesenian tradisional asal Jawa Timur. Beberapa adegan yang mewakili terdapat dalam Satu Jiwa Untuk Indonesia, dan beberapa film pendek seperti Jumprit Singit (2013) karya Mahesa Desaga, Tinuk (2015) karya Aprilingga Dani, Ora Srawung Mati Suwung (2021) karya Destian Rendra Pratama, dan Ghulam (2021) karya Nashiru Setiawan.

Produksi film Oskab Geger Geden oleh Komunitas Sinema Batu Adem di 2022

Produksi film Oskab Geger Geden oleh Komunitas Sinema Batu Adem di 2022

Pandangan Taufan tersebut agak berbeda dengan yang disebutkan oleh Arfan. Menurut Arfan, film-film Malang, belum menemukan karakter dan bentuknya. Oleh karena itu, komunitas di Malang masih perlu meningkatkan kemampuannya menggali gagasan yang mendalam. Menurutnya, untuk bicara soal kedaerahan, seharusnya pembuat film tak hanya mengandalkan bahasa, tapi juga aspek sosial budaya lainnya.

Produksi yang mengandalkan semangat kekaryaan lantas tampak penting untuk dilakukan. Pasalnya, menurut Arfan, tidak tergalinya karakter atau gaya tutur film di Malang salah satunya karena pragmatisme pembuat film dalam memanfaatkan bantuan dengan ketentuan tema yang sudah dipilih oleh penyokong dana. Walaupun begitu, pada saat yang sama, ia juga mengamini bahwa membuat film secara mandiri tidaklah semudah itu untuk diwujudkan.

“Masalahnya, kenapa tidak ada yang berani membuat film di luar bantuan atau pekerjaan, ya karena risiko film akan didistribusikan ke mana,” ucap Arfan.

Hambatan distribusi film masih menjadi persoalan di Malang. Arfan mengatakan bahwa masih sedikit kelompok produksi yang menargetkan filmnya untuk tayang di festival internasional. Padahal, apa yang dicapai oleh teman-teman di luar Malang seharusnya bisa menjadi motivasi. Hisstory Film mungkin salah satu dari sedikit yang pernah ikut kompetisi film pendek dan menang di Singapura. Sisanya, setidaknya lima tahun terakhir, jarang ada komunitas film yang berorientasi ke festival.

“Saya curiga teman-teman belum bisa mengukur kualitas filmnya, sehinga mereka kesulitan untuk membaca peta festival film dunia,” ucap Arfan.

Selain dalam kancah festival, kelemahan pegiat film Malang juga dirasakan Arfan ada pada kesiapan masuk industri film. Malang tidak memiliki banyak sosok yang telah berhasil lebih dulu di industri film. Ada nama seperti Bayu Skak, seorang content creator yang akhirnya terjun di industri film dan terlibat dalam beberapa produksi film panjang. Namun, Bayu Skak seorang tidaklah cukup. Oleh karena itu, pekerja film di Malang juga dinilainya perlu membuka komunikasi dengan orang-orang yang memiliki jaringan industri.

Jalan masuk industri film semakin samar ketika para pekerja film di Malang sendiri belum mampu mengkalkulasi budget, dan pekerjanya belum bisa menentukan honor profesinya sendiri. Taufan melihat ada kegugupan dan kegagapan bagi pekerja film untuk menentukan harga hasil kerja profesionalnya. Ini menurutnya disebabkan oleh ketiadaan panduan profesi, sehingga banyak teman-teman komunitas atau pekerja film yang bekerja tanpa kontrak.

“Mungkin belum adanya kesadaran struktural dan kultural, di mana banyak pekerja menganggap bahwa memiliki NPWP dan kesadaran membayar pajak tidak terlalu dibutuhkan, sehingga pekerja filmnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan project saja,” ucap Taufan.

Sejatinya, tiap bagian ekosistem film selalu terhubung dan saling membutuhkan. Hubungan itu seperti rantai kebutuhan, antara produksi, ekshibisi, dan apresiasi. Sayangnya, hal itu tidak terjadi pada kegiatan ekshibisi di Malang. Sejauh ini, kegiatan ekshibisi masih didominasi oleh komunitas kampus. Perlu adanya komunitas terprogram seperti Lensa Mata yang sempat mewarnai kegiatan ekshibisi film sejak tahun 2004 hingga 2018. Saat ini mungkin ada kelompok pemutaran di luar kampus, seperti Proyeksi Besok Lagi yang mulai menanyangkan film-film dari Jogja. Namun, apakah komunitas-komunitas akan tetap konsisten, itu belum bisa teruji dalam waktu singkat.

“Jangan sampai kehadiran mereka sama dengan komunitas ekshibisi yang sebelumnya. Soalnya sulit rasanya kegiatan produksi film di Malang masuk ke industri jika Malang belum menemukan role modelnya sendiri,” ucap Arfan.

Program Ekshibisi Berlayar oleh Komunitas Proyeksi Besok Lagi di 2023

Program Ekshibisi Berlayar oleh Komunitas Proyeksi Besok Lagi di 2023

Pandemi Memisahkan Jarak, Membangkitkan Kehendak

Coretan di tembok warung kopi Tjap Panorama yang mulai beroperasi ketika pandemi COVID19 berisikan umpatan, sindiran, doa, dan harapan. Warung kopi kaki lima ini menjadi salah satu tempat berkumpulnya komunitas film. Sebagai ruang temu, warung kopi ini tetap bergairah untuk membuka usaha di tengah pandemi. Begitu pula dengan kerja-kerja komunitas film yang justru semakin terkonsilidasi, alih-alih tercerai-berai.

“Selama pandemi, saya lihat kehendak yang memuncak terjadi pada komunitas film. Beberapa kegiatan komunitas justru bergeliat, seperti produksi film pendek, terbentuknya Asosiasi Dokumenteris Nusantara Malang Raya, hingga kegiatan Rasan-Rasan film di DKM,” ucap Arfan.

Kegiatan produksi film pendek saat pandemi diawali melalui Rekam Pandemi, program kolaborasi Asosiasi Dokumenteris Nusantara Malang dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kebutuhan belajar dari rumah. Program ini dilaksanakan selama empat bulan, dan menghasilkan 40 dokumenter pendek. Selain itu, Arfan juga merinci beberapa produksi film lainnya, seperti Ghulam karya Nashiru Setiawan, Bumi karya Kiki Rahma Ardiansyah (2020), Secangkir Gula Pahit (2020) karya Mahesa Desaga, Memoar (2021) karya Faris Ghaisani, hingga seri tiga film dokumenter pendek bertajuk Perempuan dalam Seni Pertunjukan karya Equator Cinema yang mendapat bantuan dana Fasilitasi Bidang Kebudayaan.

Komunitas di Malang juga membuka ruang dialog dengan tajuk Rasan-Rasan Film. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menjalin silaturahmi dan berkomunikasi mengenai kegiatan film di Malang. Menurut Taufan, kegiatan rasan-rasan di DKM sekadar berisikan obrolan, tanpa mengambil kesimpulan apa pun. Meski demikian, bagi Arfan, momen itu merupakan suatu awal terbentuknya perkumpulan Guyub Film Malang Raya. Sebagai ketua terpilih, Arfan menyebut bahwa Guyub Film Malang Raya adalah jawaban atas keresahan bersama dalam mengomunikasikan segala bentuk kegiatan film di Malang.

Produksi Film Persenan oleh Raya Media di 2022

Produksi Film Persenan oleh Raya Media di 2022

“Setidaknya ruang tersebut dapat mendorong berbagai komunitas memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang,” ucap Arfan.

Manfaat yang diberikan Guyub Film Malang Raya meliputi berbagai aspek, mulai dari urusan pekerjaan, klasifikasi, kompetensi, hingga urusan advokasi. Kolaborasi yang terjadi juga berdampak pada pembentukan kumpulan profesi seperti Open Daily Set (kumpulan pekerja artistik) dan Surya Jaya (kumpulan pekerja lampu). Selain itu, Guyub Film Malang Raya juga diisi oleh berbagai stakeholder yang telah ada sebelumnya. Sebut saja Dewan Kesenian Malang, Hisstory Film, Paradise Picture, Content Garage, Raya Media, Equator Cinema, Mata-Mata Film, Sound Film Malang, Padepokan Film, dan Kamar Merah. Para pemilik usaha rental alat seperti Kamera Malang, Ngalam Rent, dan Outline juga tergabung. Begitu pula akademisi yang mengajar di kampus dan sekolah kejuruan film.

Kultur rasan-rasan dan budaya ngobrol yang ada akhirnya menemukan hilirnya yang lebih terkonsolidasi. Dengan memuncaknya kehendak komunitas-komunitas yang telah ada, serta kehadiran Guyub Film Malang Raya, Malang memiliki progres yang bisa menjadi fondasi baru.

Mungkin tidak semua hambatan terselesaikan sekarang, tapi harapannya akan terus ada progres dan perkembangan untuk terus bergerak dan menjadi lebih baik di bidang perfilman.


Catatan Kuratorial Kota Malang

oleh Alexander Matius

Konflik beradu adalah peristiwa yang acap kali muncul dalam film-film Malang. Tampaknya konflik perspektif adalah isu yang selalu dibawa oleh film-film Malang, baik antar manusia dengan manusia hingga manusia dengan agama. Tiga film membenturkan agama dengan kondisi hidup yang lebih nyata. Dua film membenturkan praktik korupsi dengan dunia nyata yang seharusnya baik-baik saja. Satu film adalah sketsa konflik karikatural persaingan dua pengusaha, serta satu film mengungkapkan bahwa film Malang tidak pernah hening.

Malam dan Urusan menumpukan segala problem lintas kelas dan sosial dalam satu film. Bentuknya dikemas dalam percakapan-percakapan dengan berbagai topik sebelum ditutup dengan yang tidak disangka. Marbut membenturkan keyakinan yang berpasrah pada iman dengan kenyataan di dunia yang membutuhkan lebih dari sekadar kepasrahan. Seorang Marbut mengalami keraguan dengan apa yang selama ini dia percayai karena situasi ekonomi rumah tangga. Ghulam turut menarik agama dalam filmnya. Sekilas menampilkan bagaimana kehidupan pelaku kegiatan pemutaran alternatif pada situasi yang berjalan biasa menjadi luar biasa Ketika kedatangan sekelompok organisasi Masyarakat berkedok agama hendak membubarkan pemutaran yang sebelum kehadiran mereka berlangsung lancar. Sebuah sindiran kebiasaan berprasangka tentang moral dan kebebasan berekspresi. Agama juga muncul dalam Pulang Sebelum Berangkat di mana dua pasangan berusia lanjut memiliki harapan besar untuk dapat menginjakkan kaki ke Tanah Suci sebelum meninggal dunia. Kebesaran mimpi melebur menjadi situasi-situasi demi bisa pergi. Korupsi menjadi akhir dalam Ghulam, tapi hadir sejak awal dalam Persenan. Persenan adalah jargon yang sering disebutkan sebagai hadiah jasa untuk memudahkan atau memuluskan peristiwa. Film ini juga membicarakan hal tersebut, di mana dua karakter utama mendapatkan potongan atau persenan dari berbagai tingkat untuk mendapatkan, melakukan, dan mengakhiri pekerjaannya. Dalam Oskab Geger Geden, perseteruan antara dua pengusaha bakso yang sudah timbul mulai semakin meruncing Ketika satu insiden. Gesekan, tuduhan, dan kesalahpahaman bermunculan.

Percakapan-percakapan mengalir antar karakter dalam semua film membuat film terasa ramai. Baik dalam bentuk drama hingga komedi, semua konflik seakan diwujudkan sebagai sebuah kritik berbentuk sindiran. Menarik juga untuk didiskusikan terdapat dua film Malang yang kemudian meletakkan karakter permpuan berhijab dan yang tidak dalam situasi yang sama. Menonton film Malang adalah pengalaman naratif yang memahami perseteruan dengan penuh keterus-terangan dan blak-blakan.


Karya-karya pilihan kota

Malang

FILM-MARBUT---Rika-TautinBW
ghulam-thumbnail-masterBW
malam-dan-urusan-thumbnail-masterBW
Oskab Geger Geden_AFI23_1920-1080 - Sinema mbatu ademBW
PERSENAN POSTER LANDSCAPE - novin wibowoBW
pulang-sebelum-berangkat-thumbnail-masterBW

© 2023 Apresiasi Film Indonesia. All Rights Reserved. Bekerjasama dengan Cinema Poetica dan Rangkai.