afi_logoafi_logo

Kota

Balikpapan

Judul

Berkenalan dengan Insan Perfilman di Kota Balikpapan

Penulis

Masitah Fitria Ningrum

Grafik Data
Balikpapan

Kota Balikpapan terkenal dengan industri minyak. Hal itu ditandai dalam sejarah Perang Pasifik pada tahun 1942. Lantas, banyak orang dari luar pulau Kalimantan berdatangan untuk mencari nafkah. Karena percampuran berbagai macam suku pendantang, Kota Balikpapan menjadi tidak punya karakteristik budaya yang dominan. Hal tersebut mempengaruhi pula pada tidak adanya karakteristik khusus pada film Balikpapan. Namun, kota Balikpapan tidak asing dengan geliat ekosistem dunia perfilman.

Komunitas Sineas Muda Balikpapan Sebagai Pondasi SDM Perfilman Balikpapan

Kehidupan perfilman di Balikpapan dapat ditelusuri dari keberadaan Yayasan Bayu Asri yang berdiri sejak tahun 1986 sebagai wadah seni teater, seni peran televisi dan film, lukis, sastra, pantomim, teater komedi, tari, kerajinan, dan bela diri tenaga dalam Bayu Putih. Yayasan Bayu Asri beranggotakan seniman senior dan "guru” bagi pegiat perfilman di Balikpapan, seperti Abdul Rachman Rizky yang mendirikan Komunitas Sineas Muda Balikpapan (KSMB) pada tahun 2011. Rizky mengenal Yayasan Bayu Asri dari tahun 2002 melalui lokakarya seni peran dan teater. Yayasan ini didirikan oleh Zulhamdani AS - yang menjadi guru bagi Rizky, Syahroni, dan Muanam.

balikpapan 1

Sekarang Kita Jalan Bersama

Zulhamdani merupakan seniman yang aktif di dunia perfilman sepanjang tahun 1980-an hingga 2000-an. Zulhamdani terlibat di film-film besar, misalnya, “Apa Apanya Dong". Zulhamdani juga aktif di Balikpapan sebagai guru teater di Balikpapan, dan aktif di Dewan Kesenian Balikpapan kala itu. Sepanjang tahun 1980 - 1989 Zulhamdani berkeliling di beberapa daerah di tanah air termasuk Kalimantan Timur untuk pentas teater, pentatomime dan memberikan lokakarya teater. Zulhamdani menjadi tonggak semua lini seni di Balikpapan mulai dari film hingga teater. Hanya Zulhamdani yang pada saat itu berkuliah di Akademi Seni, Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) di Yogyakarta, (Abdul Rachman Rizky, KSMB, 2 September 2022).

Melalui Komunitas Sineas Muda Balikpapan (KSMB), Abdul Rachman Rizky ingin melanjutkan perjalanan Zulhamdani. Rizky berupaya membangun sumber daya manusia yang terampil di ekosistem perfilman lokal. Rizky dan kawan-kawan KSMB mencoba mengembangkan minat dan bakat para pelajar di beberapa sekolah menengah atas di Balikpapan. Rizky sendiri punya pengalaman singkat di bidang media penyiaran. Ia pernah bekerja sebagai produser dan editor di stasiun televisi lokal, Balikpapan TV (BTV) di bawah naungan grup Jawa Pos Multimedia Corporation (JPMC) pada tahun 2009-2011.

Untuk membangun ekosistem perfilman di Balikpapan, KSMB membekali diri dengan mengikuti berbagai lokakarya. Sebagai contoh, lokakarya penulisan skenario, penyutradaraan dan penyuntingan film yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014. Kegiatan lokakarya dan pelatihan dianggap Rizky sebagai kesempatan besar dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan menarik minat serta potensi kalangan muda untuk terjun di dunia film. Manfaat tersebut dirasakan pula oleh Ria Gumbira dari Komunitas Gambar Gerak yang didirikan pada tahun 2003. Gambar Gerak merupakan komunitas yang berdiri di bawah naungan PT Dejavu sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan.

Mulai tahun 2012, KSMB terus bergerilya menyebarkan pengetahuan dan keterampilan mereka ke pelajar-pelajar SMA melalui pendampingan ekstrakurikuler film. KSMB memberikan materi kelas dasar-dasar penulisan naskah, pemeranan, sinematografi, tata suara, penyutradaraan, dan penyuntingan film. Melalui sekolah-sekolah tersebut, terutama di SMA 5 Balikpapan, Abdul Racman Rizky bersama kawan-kawan KSMB lainnya mencetak calon-calon insan perfilman muda di Kota Balikpapan.

Kehadiran KSMB diakui oleh Yeyen Dwiyanti selaku guru SMA 5 Balikpapan sekaligus pembina ekstrakurikuler film Smala Synergic Rhyme (SSR). KSMB membantu dirinya yang tidak ada latar belakang film.

Yeyen menyampaikan bahwa awal mula terjun menjadi pembina SSR adalah ketika lomba-lomba film tingkat sekolah marak pada akhir tahun 2012. Yeyen ditunjuk langsung oleh kepala sekolah untuk mendampingi anak-anak dalam menemukan bakat masing-masing. Awalnya Yeyen hanya mengumpulkan siswasiswi yang sering bercengkerama bersamanya lalu ia mulai menggali potensi yang ada pada siswa-siswinya tersebut.

“Saya mencoba mencari bakat anak-anak yang awalnya suka ngobrol-ngobrol saja sama saya. Saya melihat ada yang punya bakat ide cerita, akting, kemudian yang suka foto-foto” ujar Yeyen.

Kemudian melalui Ahmad Pahlevi, yang merupakan alumni SMAN 5 dan kini tengah melanjutkan studi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Yeyen berkenalan dengan Rizky dan KSMB. Inilah titik awal terbentuknya SSR di SMA N 5 Balikpapan. Awalnya Yeyen merasa skeptis. Ia meragukan siswa-siswinya tidak berminat untuk gabung. Namun Yeyen terus mencoba melakukan pendekatan kepada siswa-siswinya.

“Awalnya mungkin mereka enggak ada kepikiran mau gabung film sama sekali. Ada sebagian yang seperti itu. Jadi saya ajak, saya rangkul dan saya perkenalkan. Saya yang tidak punya latar belakang di bidang film ini hanya bisa memberikan informasi kalau ada kegiatan lokakarya oleh bang Rizky”, tambah Yeyen.

Dorongan Yeyen yang tida henti terbayarkan dengan lolosnya film produksi SSR pada ajang Festival Film Pelajar "Vista karsa" tahun 2013 di Bontang. Film itu masuk ke dalam 5 besar pemenang dan menjadi pemenang Kategori Aktor Terbaik Se-Kalimantan Timur. Tahun ke tahun dilalui ekskul SSR dengan penuh prestasi. Mulai dari juara Telkomsel Loop pada tahun 2015, FLS2N tingkat Kota dan Provinsi hingga perlombaan tingkat Nasional dan meraih hadiah 15 juta pada tahun 2015. Berbagai prestasi yang diraih tersebut diakui Yeyen tak terlepas dari dukungan kawan-kawan KSMB yang selalu mendukung perjalanan eksul SSR.

Selain mencetak calon-calon insan perfilman melalui pembinaan ekskul film di SMA N 5 Balikpapan, KSMB juga aktif memproduksi film-film lokal dengan atau tanpa bantuan pemerintah. KSMB beberapa kali mencuri perhatian publik. Salah satu karya film pendek KSMB berjudul “Save The Mangrove” mewakili Indonesia dan menjadi satu-satunya film dari Asia Tenggara yang masuk jajaran 10 besar Mobile Film Festival 2015 bertemakan Act On Climate Change di Paris. Film itu terpilih menjadi TOP 10 Mobile Film Festival 2015 dari 765 Judul Film pendek yang diikuti oleh 27 Negara.

Setelah nama KSMB mengudara berkat prestasi yang diraihnya, kolaborasi antar komunitas terus berlangsung dan sedikit demi sedikit mulai membangun fondasi ekosistem perfilman lokal. Peran pemerintah mulai ada pada ajang Balikpapan Fair tahun 2012. Balikpapan Fair merupakan serangkaian acara HUT Kota Balikpapan. Pada acara tersebut KSMB difasilitasi sebuah booth untuk memperkenalkan dan mempromosikan KSMB, baik dalam rangka merekrut anggota baru dan memutarkan beberapa short film garapan KSMB. KSMB membuka peluang untuk memperkenalkan dan mempengaruhi anggotaanggota baru mereka kepada film-film indonesia.

Sejak saat itu, anggota KSMB berjumlah 30 orang dan berasal dari berbagai kalangan umum. KSMB menggelar lokakarya rutin dan forum diskusi internal setiap minggu yang dihadiri oleh para anggota Sineas Muda Balikpapan di pinggir-pinggir pantai. Selain bertujuan untuk menambah wawasan para anggota baru yang belum atau sama sekali tidak paham dunia film, adanya kegiatan ini juga ditujukan sebagai wadah bertukar pikiran untuk kemajuan KSMB.

“KSMB berharap bisa menjadi fondasi bagi para putra-putri daerah setelah lulus pendidikan di bidang perfilman dan kembali ke daerah asal yaitu Balikpapan sehingga mereka tidak bingung lagi harus kemana. Melalui KSMB, keinginan untuk perlahan menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan serta melanjutkan (regenerasi) perjuangan membangun ekosistem perfilman di Kota Balikpapan akan terus diupayakan. Misalnya, membuka peluang anggota KSMB sebagai pekerja lepas baik itu di produksi film pendek maupun membuka usaha sendiri di bidang jasa videografi”, tutur Rizky.

Pergerakan Perfilman di Kota Kilang Minyak Pada Masa Pandemi - Pandemi Mereda

Tak jauh berbeda dengan daerah lain, di kota 'kilang minyak' ini terdapat beragam komunitas yang lahir dari berbagai latar belakang. Uniknya, beragam komunitas tersebut tak hanya fokus pada satu titik kegiatan. Tercatat sampai tahun 2022 ini sudah ada komunitas film yang melakukan beragam kegiatan di Balikpapan. Mulai dari produksi, ekshibisi, hingga pengarsipan.

Gambar Gerak menjadi komunitas yang memegang beberapa bidang peran. Tidak hanya produksi, ia juga menggelar ekshibisi dan kegiatan lokakarya. Namun, pandemi COVID-19 membuat langkah komunitas Gambar Gerak terhenti. Setelah pandemi mulai terkendali, kini perjalanan komunitas Gambar Gerak hidup kembali. Kini mereka berfokus untuk mendukung individu yang tidak punya peralatan dan merangkul orang-orang awam untuk bergabung dan berkolaborasi membuat karya film.

balikpapan 2

Sekarang Kita Jalan Bersama

Didukung oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Balikpapan, KSMB menggelar ajang apresiasi film bertajuk Balikpapan Film Festival (BFF) pada tahun 2020. Perjalanan BFF terus belanjut dari tahun ke tahun hingga hari ini. Tercatat ada 1.200 penonton yang hadir pada malam penganugerahan BFF 2022 dan berasal hampir dari seluruh penjuru Kalimantan Timur seperti Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara yang menjadi wilayah IKN, Tenggarong, Bontang dan Samarinda.

Masih tak ingin ditelan pandemi COVID-19, KSMB terus bangkit dan bergerak. Setelah ajang BFF 2020, KSMB kembali dengan Festival Film terbesar di Indonesia yakni Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada akhir tahun 2020. Bersama 15 kota lainnya di Indonesia, KSMB ikut serta menyelenggarakan dan merayakan 15th JAFF 'Kinetic'. Walau digelar secara daring dan luring secara terbatas, pemutaran JAFF di Studio Ray and co Balikpapan cukup untuk mengembalikan euforia dan kerinduan atas kegiatan apresiasi dan ekshibisi di kota ini.

Tidak adanya kampus dengan program studi film di kota industri minyak ini juga tak menyurutkan semangat kawan-kawan komunitas BPN Projex yang penasaran tentang film untuk kemudian mempelajari serangkaian tutorial teknis film melalui Youtube. Horras Simamora, seorang pengusaha warung internet (warnet) selama kurang lebih 7-8 tahun ini, mulai menumbuhkan minatnya di dunia film pada tahun 2015 ketika ia mulai mengisi waktu luangnya dengan belajar film melalui tutorial di Youtube.

Bersama pasukan pelanggan setia warnetnya, Horras memulai debut produksi filmnya pada masa pandemi COVID-19. Tak seperti pelaku film lainnya yang memproduksi film untuk didistribusikan ke festival, Horras melalui BPN Projex punya pandangan lain tentang film yang ia dan kawan-kawan BPN Projex produksi. Mereka ingin membangun portofolio yang bisa disebarkan melalui media sosial dengan harapan mendapatkan pekerjaan dari perusahaan sekaligus pendapatan iklan di Youtube. Bagi Horras pemilik akun Instagram @BPN. Projex dengan pengikut belasan ribu ini, Instagram dan Tik-tok adalah medium pemasaran yang efektif.

Tentang SDM, Ragam Corak Produksi, Ekshibisi dan Sekelumit Hambatan Komunitas Film Sekaligus Peran Pemerintah Kota Balikpapan

Tidak adanya pendidikan atau universitas di Kota Balikpapan yang menjurus langsung ke film membuat sejumlah individu yang memang punya minat film di kota ini tumbuh secara otodidak dan mandiri bersama komunitas film. Padahal, menurut Satya dari komunitas Gambar Gerak, pendidikan film adalah hal fundamental bagi kehidupan komunitas film.

balikpapan 3

Target Lima Juta

Tak seperti Jakarta atau Yogyakarta yang tumbuh sebagai salah satu kota dengan industri film, Balikpapan masih menjadi kota yang sedang berkenalan dengan industri film. Balikpapan masih belum sepenuhnya terbiasa dengan ekosistem industri perfilman dan sedang beradaptasi dengan penghasilan yang tidak seberapa dari bidang film ini.

Menurut Horras, hambatan dalam memproduksi sebuah film menyangkut ketersediaan pemain. Bagi dirinya, kemampuan aktor dalam berakting sesuai karakter yang diinginkan sangatlah membantu dalam hal penyutradaraan. Namun, untuk mendapatkan aktor profesional juga dibutuhkan dukungan dana yang lebih besar pula. Sehingga bagi komunitas BPN Project yang sumber dananya berasal dari kocek pribadi, mereka memilih untuk memberdayakan orang-orang terdekat untuk dijadikan pemeran pada produksi filmnya.

Kemudian, belum adanya talent agency di kota ini juga disadari oleh Rizky. Dengan demikian, Abdul Majid selaku Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Balikpapan merespon permasalahan tersebut dengan mengadakan pelatihan akting yang direncanakan pada akhir tahun 2022. Masih soal hambatan, berbeda dengan BPN Projex yang bersedia merogoh kantong pribadi, Komunitas Gambar Gerak, Ria Gumbira mengatakan ia sangat mengharapkan dana hibah dan bantuan peran pemerintah untuk mendukung pergerakan komunitasnya.

Hambatan-hambatan tersebut pada akhirnya menghasilkan siasat-siasat sinema baik dalam hal produksi dan ekshibisi. Ketika pemeran film secara profesional sulit untuk didapatkan, maka yang dilakukan oleh BPN Project adalah membuat film dengan latar cerita konflik-konflik nyeleneh. Kata nyeleneh bagi Horras lebih merujuk pada genre action yang out of the box seperi konflik sindikat pembunuhan dan pencurian pada film Madness dan film Virus Survivors karya BPN Projex. Hal tersebut dianggap Horras sebagai salah satu ciri khas film besutan sineas Balikpapan. Hambatan-hambatan tersebut pada ujungnya melahirkan corak film Balikpapan lebih kepada genre action dan thriller atau fantasi. Mengenai corak film di kota Balikpapan, Ria Gumbira mengatakan pendapatnya bahwa film-film di kotanya kebanyakan bergenre fiksi komedi dan sketsa.

Beberapa hambatan di atas setidaknya mempengaruhi jumlah produksi film pada setiap komunitas. Selain keterbatasan dana hal lain yang menjadi kendala adalah tidak adanya rental alat produksi film di Balikpapan. Alhasil, para komunitas harus memiliki alat sendiri dengan cara menabung terlebih dahulu. Rentetan hambatan di ranah produki lantas berakibat pada minimnya kegiatan ekshibisi.

Walau demikian, masyarakat kota dengan jargon kota beriman ini tak begitu asing dengan kegiatan ekshibisi walaupun keberadaannya tergolong jarang atau tidak begitu aktif. Contohnya pada ajang apresiasi bertajuk BBF tahun 2022 yang langsung mengambil peran tepat setelah acara penganugrahan berakhir. Para pemenang dan nominasi-nominasi dari berbagai kategori mengagendakan pemutaran karya film mereka pada hari berikutnya. Kegiatan ini diinisiasi oleh masing-masing pelaku film yang masuk dalam berbagai nominasi BFF 2022. Kegiatan pemutaran karya nominasi BFF 2022 digelar di sebuah café dan dihadiri oleh para sutradara film, juri BFF dan diramaikan oleh para crew film serta penonton yang datang dari berbagai kalangan. Acara berlangsung dengan santai dengan mengupas segala bentuk penasaran penonton akan film yang diputar dan sekaligus membuka pikiran para pelaku film tentang sistem penjurian BFF.

Sebagai penutup, Rizky kembali menegaskan baginya tak ada sebuah hambatan selama masih ada niat.

“Ada atau tidak adanya dukungan pemerintah, KSMB tetap akan terus berjalan memberi dampak dan membangun ekosistem perfilman di Kota Balikpapan” tutup Rizky saat ditanya mengenai prinsip dalam komunitasnya.


AFI 2023 menindaklanjuti hasil penelitian di tiga kota, salah satunya Kota Balikpapan. Pemilihan kota tersebut berdasarkan riset terkait potensi pengembangan ekosistem perfilman dan keterlibatan dukungan pemerintah daerah pada kegiatan komunitas. Program Tindak Lanjut disesuaikan dengan riset dan kebutuhan setiap kota. Di Balikpapan, tim AFI melaksanakan pelatihan penulisan skenario pendek dan tata kelola festival film.
Simak kegiatan tindak lanjut AFI di sini

Karya-karya pilihan kota

Balikpapan

Film tidak lagi dapat diakses karena telah ditayangkan pada Apresiasi Film Indonesia periode tahun 2022.

Balada Romansa Bujang_Nocturne Films_Ihsan Aditama
Four Horsemen_Nocturne Films_Ihsan Aditama
target-5-juta-thumbnail-master

© 2023 Apresiasi Film Indonesia. All Rights Reserved. Bekerjasama dengan Cinema Poetica dan Rangkai.