afi_logoafi_logo

Kota

Sumbawa

Judul

Menyemai Bibit Sinema di Tanah Samawa

Penulis

Reny Suci

Grafik Data
test
test
test
test
test
test
test
test
test
test
Sumbawa

Jejak kegiatan perfilman di Sumbawa diawali dengan Sapugara, sebuah film kolosal yang diproduksi pada tahun 1991. Dibintangi oleh Nungki Kusumastuti dan Adi Pranajaya, film ini juga diramaikan oleh nama-nama lain yang kini menjadi tokoh penting di Sumbawa seperti Iskandar D, M.Ec.Dev (Ketua Dewan Kesenian Sumbawa), Aries Zulkarnaen (budayawan), dan Dr. Akhmad Yamin (Direktur Pascasarjana Universitas Teknologi Sumbawa). Sagapura merupakan film pertama yang mengangkat kisah kepahlawanan Lalu Unru dari Sumbawa.

Satu film kolosal sayangnya tidak cukup untuk menopang kelangsungan perfilman di Sumbawa. Satu per satu bioskop tutup, dan kegiatan perfilman Sumbawa meredup. Menghidupkan kembali ekosistem perfilman di kabupaten kecil yang sudah lebih dari 15 tahun kehilangan bioskop lantas terdengar seperti misi yang terlalu besar. Namun, inilah yang dilakukan oleh Yuli Andari, yang kemudian pulang dan melahirkan seorang bayi perempuan serta mendirikan sebuah komunitas film pertama di Sumbawa.

“Saya awalnya hanya berniat melahirkan di Sumbawa lalu kembali ke Jogja, tapi kemudian (niat itu) berubah arah karena bapak saya minta menetap. Keluarga lain juga mendukung,” ucap Yuli menceritakan awal mula kegiatannya di Sumbawa.

Yuli Andari, sutradara film dokumenter Joki Kecil (2005) yang membuat film pertamanya lewat program Eagle Awards pada 2005, tidak menyangka akan berada di Sumbawa dan menginisiasi Sumbawa Cinema Society (SCS) di kampung halamannya. Yuli dan Anton Susilo, pasangannya yang juga turut menyutradarai Joki Kecil, menikah dan membangun karier mereka di Yogyakarta dengan membuat rumah produksi Benang Merah. Production house ini memproduksi karya-karya dokumenter tentang Nusa Tenggara Barat, khususnya Sumbawa.

 Yuli Andari, inisiator Sumbawa Cinema Society, memberikan sambutan di Awarding night Festival Film Sumbawa 3 di 2021BW

Yuli Andari, inisiator Sumbawa Cinema Society, memberikan sambutan di Awarding night Festival Film Sumbawa 3 di 2021.

Film-film itulah yang dibawa pulang untuk diputar di Sumbawa, dan mendapat sambutan yang baik. Saat memutarkan film Joki Kecil dan film-film lain karya Benang Merah, Yuli Andari bekerja sama dengan dinas terkait untuk mendapatkan rekomendasi dan dukungan guna memobilisasi siswa menonton. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pemutaran film Joki Kecil dan film-film lainnya disebut sebagai embrio, cikal bakal munculnya SCS. Meski demikian, di titik ini, SCS belum dapat dianggap berdiri.

SCS baru terbentuk pada tahun 2014. Awalnya, tawaran dari Indocs untuk bekerja sama melakukan pemutaran film untuk program Screendocs Travelling di Sumbawa menjadi pemicu. Pemutaran tersebut memantik keinginan untuk terus melakukan kegiatan. Setelah itu, Yuli dan beberapa temannya membuat penayangan dan diskusi film The Act of Killing (2012), yang dilaksanakan secara sederhana di teras rumah dan diikuti oleh 10-15 orang penonton. Dari pemutaran itu, muncul ide untuk membentuk komunitas atau klub menonton serta melakukan pemutaran-pemutaran film dari koleksi pribadi Yuli Andari. Tidak lama kemudian, klub menonton ini memiliki nama, yakni Sumbawa Cinema Society.

“Kegiatan SCS diniatkan untuk mengakrabkan lagi film kepada masyarakat setelah dua bioskop di Sumbawa (Sumbawa Theatre & President Theatre) tutup karena industri film mati suri di akhir tahun 90-an,” ucap Yuli.

Nonton bareng dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 2019 berlokasi di Dusun Batu Alang.

Nonton bareng dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 2019 berlokasi di Dusun Batu Alang.

Pada tahun berikutnya, SCS menerima beberapa tawaran untuk menjadi rekanan lokal dalam festival film berskala nasional: Anti-Corruption Film Festival (ACFFest) dan Science Film Festival. Pada tahun yang sama, SCS juga melakukan pemutaran untuk omnibus Kembang 6 Rupa (2014), yang mana salah satu film dokumenter karya Anton Susilo turut diputar. Lewat ACFFest 2015, Anton Susilo juga berhasil mendapatkan pendanaan untuk memproduksi film fiksi pendek berjudul Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang (2015).

Turut membantu, Reny Suci, alumni LA Lights Indie Movie 2009 yang sebelumnya bekerja sebagai koordinator ACFFest 2014-2015 di Jakarta, kemudian pulang untuk menetap di Sumbawa dan bergabung dengan SCS. Pada tahun yang sama, ia berhasil memperoleh dana produksi dari Pusbang Film melalui program Fasilitasi Film Pendek 2015 untuk membuat film pertamanya berjudul Jon (2015). Dengan adanya kegiatan pemutaran serta penambahan dua film pendek yang diproduksi, SCS mulai masuk ke dalam radar komunitas film dan diundang untuk mengikuti Forum Komunitas di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2015.

Bersinergi dengan Pemerintah Daerah

Pada awal berdirinya, SCS melakukan kegiatan secara swadaya tanpa dukungan dana dari pemerintah. Keterlibatan Pemda baru sebatas pada kehadiran mereka untuk memberikan sambutan pada acara-acara besar seperti roadshow ACFFest dan Science Film Festival. Baru pada tahun 2017, SCS berhasil memperoleh dana hibah dari Yayasan Kelola untuk membuat pertunjukan Harmoni di Tana Samawa, Wakil Bupati serta beberapa kepala dinas hadir dan melihat langsung kegiatan SCS. Pertunjukan yang mengangkat sejarah keberagaman di Sumbawa tersebut lantas menjadi gerbang masuknya dukungan Pemda lewat Dewan Kesenian Sumbawa (DKS).

Saat itu, SCS menemui Iskandar D, M.Ec.Dev, ketua DKS yang akrab dipanggil Pak Ande, untuk mengajukan permohonan dana tambahan untuk kegiatan Harmoni di Tana Samawa. Dari kegiatan tersebut, DKS mulai melihat potensi yang dimiliki SCS dan berkomitmen mendukung kegiatan-kegiatan SCS yang akan datang.

“Selaku Dewan Kesenian, kami hanya bisa men-support walaupun dengan dana terbatas. Dari dana yang terbatas itu, 25 persen kami gunakan untuk mendukung kegiatan perfilman,” ucap Ande.

Bagi Pak Ande yang telah menjabat sebagai ketua DKS selama tiga periode, tidak banyak kelompok kesenian yang datang untuk mengajukan proposal program untuk didanai oleh DKS. SCS datang dengan proposal kegiatan yang belum pernah dilaksanakan di Sumbawa. Dalam proposal itu, SCS membuat karya multidisiplin (teater, foto, arsip, film, dan seni tradisi) yang diisi oleh 300 pengisi acara dari latar belakang seni dan etnis yang beragam.

Festival Film Sumbawa (FFS) yang diadakan pertama kali pada tahun 2019 adalah bukti komitmen dan dukungan penuh dari DKS. Mengusung tema “Warna Warni Keberagaman Sumbawa”, FFS pertama memiliki program pendampingan produksi film fiksi dan dokumenter untuk pelajar. Film-film yang diproduksi kemudian diputar pada malam puncak, dan penonton diminta untuk memilih film favoritnya. Kompetisi ini membuat pelaksanaan FFS pertama dihadiri oleh 1.000 orang lebih.

Nonton bareng dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 2019 berlokasi di Dusun Batu Alang.

Awarding Night Festival Film Sumbawa tahun 2019

Selain bekerja sama dengan DKS, SCS juga berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali untuk melaksanakan workshop film secara daring dalam Festival Film Sumbawa 2020. Mengingat pada tahun itu terjadi pandemi COVID-19, dan pemerintah menerapkan pembatasan, jumlah partisipan dan penonton FFS mengalami penurunan drastis.

Strategi SCS dalam melibatkan lembaga dan tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan telah mendorong perkembangan yang cepat dalam kegiatan perfilman di Sumbawa. Bahkan, pada Festival Film Sumbawa 2021, Bupati Sumbawa hadir untuk memberikan penghargaan. Kehadiran Bupati menjadikan FFS sebagai event tahunan yang prestisius dan dinantikan oleh sekolah-sekolah di Sumbawa.

“Melihat Bowo (Leksono) berani protes dan mendemo Pemda, kami tidak berani melakukan hal serupa di Sumbawa. Risikonya terlalu besar. Kami di sini justru berusaha menggandeng Pemda dalam kegiatan-kegiatan kami,” ujar Anton Susilo.

FFS, yang kini sudah memasuki penyelenggaraan edisi keempat, mulai menentukan arahnya dengan berfokus pada karya-karya dokumenter. Pada tiga penyelenggaraan sebelumnya, FFS masih memfasilitasi produksi film fiksi pendek, tapi tidak membuka kompetisi untuk umum pada kategori tersebut. Keputusan untuk berfokus pada karya dokumenter yang mengusung tema pelestarian kebudayaan sejalan dengan pemikiran Kepala Bidang Kebudayaan, Sutan Syahril. Kabid Kebudayaan yang menemui kami dengan T-Shirt dan bucket hat di kantornya ini berbicara dengan sangat semangat mengenai harapannya untuk bersinergi dengan komunitas film dalam mendokumentasikan objek kebudayaan yang menjadi program utamanya.

Menumbuhkan Minat, Mengantisipasi Regenerasi
Rapat persiapan produksi dua film dokumenter Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang berjudul Berang Rempe dan Barapan Kebo di 2022.

Rapat persiapan produksi dua film dokumenter Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang berjudul Berang Rempe dan Barapan Kebo di 2022.

Dalam kegiatannya, SCS diisi oleh anggota yang berasal dari kalangan mahasiswa dan siswa SMA. Kepada mereka, Anton Susilo selalu berusaha untuk menularkan semangatnya dalam membuat film dan berkarya dengan konsisten. Pasalnya, Anton kadang merasa sebagian besar anggota SCS hanya aktif jika ada kegiatan seperti festival atau produksi. Menonton dan berdiskusi tidak terlalu diminati. Lebih banyak minat dalam belajar teknik kamera.

“Saya pribadi menyampaikan kepada teman-teman bahwa membuat film tidak serta-merta membawamu untuk aman secara finansial, tapi ini adalah jalan jihadmu. Karena lewat film Joki Kecil dan Satu Harapan, saya bisa mengubah hidup orang-orang yang terlibat di dalamnya,” tutur Anton, merefleksikan pengalamannya ketika Pemda dan Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) terpantik untuk mengevaluasi peraturan keselamatan joki di Kabupaten Sumbawa.

Untuk memberikan dorongan, Anton Susilo melatih anggota-anggota SCS melalui Kronik Sumbawa. Kronik Sumbawa adalah brand yang mengakomodasi permintaan dokumentasi dan peliputan yang ditawarkan kepada SCS. Bagi Anton, Kronik adalah kawah candradimuka, tempat di mana calon juru kamera dan editor ditempa untuk mendapatkan skill yang mumpuni. Dalam status SCS sebagai komunitas non-profit, Kronik Sumbawa menjadi sumber pemasukan untuk memenuhi biaya operasional sehari-hari.

Pembagian fungsi antara dua entitas tersebut mulai dilakukan sejak tahun 2018. Kronik Sumbawa yang berbadan hukum untuk kegiatan usaha, membuat video dokumentasi, liputan, dengan melibatkan kru yang berasal dari anggota SCS. Sementara itu, karya yang diproduksi SCS berupa film dokumenter dan perekaman warisan budaya adalah bentuk kerja sama dengan Bidang Kebudayaan Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Mengajarkan teknik kamera dan editing kepada anak muda adalah perkara yang mudah bagi Anton. Namun, hal yang sulit baginya adalah ketika mereka sudah punya kemampuan yang cukup, tapi harus berhadapan dengan realitas: tuntutan memiliki pekerjaan tetap. Mereka yang mencoba “berguru” kepada Anton, sebagian besar adalah mahasiswa, yang biasanya akan memilih untuk mengikuti ujian menjadi PNS, bekerja sebagai pegawai swasta, atau kembali ke kampung halamannya setelah lulus kuliah. Anton kerap patah hati setiap kali kehilangan anak didiknya—yang sudah digembleng tapi kemudian harus melepaskan diri dari komunitas.

RProses produksi film JASTIP ACFFest KPK di 2020

Proses produksi film JASTIP ACFFest KPK di 2020

Sosok lain yang juga berkutat dalam regenerasi pegiat film di Sumbawa adalah Jaka Tidar, guru SMAN 2 Sumbawa. Sebagai guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sekaligus pendamping ekstrakurikuler film di sekolahnya, Jaka menceritakan kegiatannya bersama murid-muridnya di ekstrakurikuler Snapshot. Di Snapshot, mereka belajar fotografi dan pembuatan video, aktif membuat konten, serta mengikuti kompetisi film pendek seperti Festival Film Sumbawa (FFS) dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Sebelum SCS mengadakan Festival Film Sumbawa, Jaka dan murid-muridnya mengikuti kompetisi film lewat FLS2N. Saat melakukan itu mereka biasanya hanya berbekal juknis yang diterima 7 hari sebelum deadline ditutup. Dengan semangat pantang menyerah, mereka berusaha memenuhi tenggat tersebut, meskipun hasilnya belum memuaskan.

“Untung filmnya jadi, tapi prosesnya seru. Saya bilang ke mereka, film ini adalah legacy kalian. Menang apa engga, tidak usah dipikirkan. Yang penting pernah bikin film dan nikmati proses belajarnya,” ujar Jaka.

Skill kamera dan editing, yang awalnya direncanakan untuk mempersiapkan mereka menghadapi FFS dan FLS2N, sejatinya bisa dimanfaatkan siswa untuk mengerjakan tugas sekolah. Kemampuan tersebut bahkan dapat dijadikan bisnis pembuatan video pendek yang menghasilkan pendapatan. Oleh karena itu, menurut Jaka, mengajarkan teknik kamera haruslah fun dan mengikuti tren. Siswa yang ikut ekstrakurikulernya harus merasa bangga, karena hal ini adalah bagian dari cara mereka menunjukkan eksistensi di mata teman￾temannya.

Seperti Anton yang kerap melihat anak didiknya pergi, Jaka juga menyaksikan siswa ekskul datang dan pergi. Fluktuasi jumlah peminat ekskul pun menjadi kenyataan yang sering ditemuinya selama menjadi guru pendamping. Namun, ia menanggapinya dengan lebih santai. Baginya, ia memang hanya punya waktu dua tahun bersama. Sudah jadi keniscayaan jika ia harus berpisah saat muridnya naik kelas 3 dan bersiap menghadapi ujian akhir.

Harapan untuk Tumbuh Bersama

Dari kacamata Dewan Kesenian, kolaborasi lintas disiplin adalah bagian dari kekuatan yang mampu dihimpun oleh SCS. Selain itu, SCS memiliki kemampuan manajerial yang patut dijadikan contoh oleh komunitas lain. Ande menjelaskan bahwa SCS mampu menjelaskan rencana programnya lewat proposal dan juga mampu mempertanggungjawabkan kegiatannya lewat laporan kegiatan yang diserahkan setelah kegiatan selesai. Lewat program pemutaran, SCS juga mampu menjangkau desa-desa dan menjadi sumber hiburan bagi warga.

SCS juga diharapkan dapat menjadi tempat bagi mereka yang benar-benar memiliki keinginan kuat untuk berkarier sebagai filmmaker. Film-film yang dihasilkan diharapkan bisa menembus berbagai festival film atau bahkan memenangkan kompetisi. Harsa Perdana, yang tahun ini menjadi runner-up Eagle Awards lewat karyanya Sang Punggawa Laut Sumbawa (2022) merupakan salah satu nama yang diharapkan bisa menjadi generasi penerus pembuat film dokumenter dari Sumbawa. Lebih luas lagi, SCS yang telah berkiprah selama hampir 10 tahun bukan hanya menjadi komunitas yang hanya aktif dalam kegiatan perfilman. SCS juga menjadi agensi lokal untuk pemajuan kebudayaan Sumbawa.

Hal penting yang disampaikan Ande untuk perkembangan kegiatan perfilman di Sumbawa terletak pada kritik film. Beliau merasa belum ada yang mampu menulis kritik film di Sumbawa. Baginya, kritik itu sangat penting sebagai bentuk dialog dan apresiasi terhadap sebuah karya film yang sudah diproduksi. Ini bukan hanya tentang menulis sinopsis cerita atau sekedar merilis berita dari SCS, tetapi kritik film memiliki peranan yang signifikan untuk memberikan wawasan kepada penonton tentang isu-isu yang disampaikan lewat film yang diputar.

Sementara dari kacamata kebudayaan, Sutan Syahril melihat potensi besar dari komunitas dalam mendukung program pelestarian kebudayaan daerah. Bagi Syahril, pihaknya bersedia menjadi tempat bernaung bagi komunitas film di Sumbawa. Oleh karena itu, pihak komunitas diharapkan proaktif mengajukan program-program untuk dimasukkan dalam agenda Bidang Kebudayaan, sehingga mereka bisa mendapatkan anggaran dari APBD.

Bagi Jaka Tidar selaku pengajar, kuncinya adalah memotivasi siswa untuk mulai belajar membuat film. Kemampuan storytelling bisa diasah seiring berjalannya waktu. Siswa-siswa yang awalnya ingin ikut demi “terlihat keren”, nantinya akan “keren beneran” ketika sudah mempunyai skill setelah berproses lewat ekskul Snapshot. Sebagai guru muda, ia sangat terbantu dengan kebebasan yang diberikan oleh Kurikulum Merdeka. Ini memungkinkannya untuk leluasa berbagi informasi dengan murid-muridnya, terutama yang berkaitan dengan teknologi.

Menumbuhkan dan merawat ekosistem perfilman di Sumbawa tidak lagi menjadi tanggung jawab SCS dan Yuli Andari semata. Ekosistem perfilman di Sumbawa akan berkembang seiring dengan munculnya komunitas-komunitas baru, adanya kolaborasi, pertukaran pengetahuan antar-komunitas, dan dukungan dari pemerintah. Bukan tidak mungkin, bibit- bibit yang disemai akan tumbuh besar dan menjadi kebanggaan dari Tana Samawa.


Catatan Kuratorial Kota Sumbawa

oleh Alexander Matius

Toleransi adalah satu kata yang menjadi benang merah dalam film-film Sumbawa. Adanya perbedaan, penerimaan dan kebersamaan menjadi alur kunci. Setidaknya itu paling terlihat dalam dokumenter-dokumenternya. Ada tiga dokumenter dalam program ini. Harmoni Bertetangga adalah cerita Dewa Putu Raka, laki-laki dari Bali yang merantau akibat Gunung Agung meletus. Tanjung Kebahagiaan berkisah tentang warga Timor yang berpindah ke Sumbawa pasca referendum Timor tahun 1999. Pelita Kebhinekaan berpusat pada seorang guru yang beragama Islam. Ketiganya menelusuri jejak-jejak toleransi atas perbedaan suku hingga agama dan kehidupan yang saling menghormati satu sama lain. Dokumenter ini juga selalu dibuka dengan asal muasal hingga perlahan mengalir dalam konteks keseharian, penerimaan, dan adaptasi lingkungan.

Sementara film fiksinya lebih beragam. Dua film ikut memasukan peran serta budaya walau bukan menjadi kemasan utama. Seribu Kaki Satu Langkah adalah drama persahabatan yang dalam lingkup pertemanan mereka terdiri dari perbedaan suku dan dalam satu adegannya juga menggambarkan bagaimana toleransi itu berjalan. Dalam film Aku Bisa, seorang anak perempuan tertarik untuk memainkan alat musik tiup serunai, tapi temannya mengerdilkannya karena dia Perempuan dan orang tuanya melarangnya karena memainkan serunai bukan bagian dari adatnya.

Dua film lainnya mungkin tidak begitu “setia” kepada bentuk yang lebih banyak muncul dalam film-film Sumbawa yang lain. Di Mana Nurani bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami kemalangan bertubi-tubi mulai dari lapangan pekerjaan yang tutup akibat pandemi, suami yang kemungkinan berselingkuh, ibunya yang meninggal, hingga dituduh sebagai penyebar virus di kampung halamannya. Sementara Jastip adalah film komedi yang mengkritik politik uang dalam kampanye. Berlatarkan menjelang pemilihan, seorang calon menggunakan politik uang dengan memanfaatkan produk madu yang dilabeli materi kampanye dan diselipkan uang. Dua film tadi tidak menjadi khas dari Sumbawa tetapi lebih memilih menggunakan perspektif yang lebih “nasional.”


Karya-karya pilihan kota

Sumbawa

1000 KAKI 1 LANGKAH_Afi23 - Harsa PerdanaBW
AKU BISA_Afi23 - Harsa PerdanaBW
dimana-nurani-thumbnail-masterBW
HARMONI BERTANGGA_Afi23 - Harsa PerdanaBW
Jastip-(Jasa Tipu-Tipu)_AFI23_1920-1080 - Shella NoviaBW
PELITA KEBHINEKAAN - Harsa PerdanaBW
TANJUNG MENANGIS_Afi23 - Harsa PerdanaBW

© 2023 Apresiasi Film Indonesia. All Rights Reserved. Bekerjasama dengan Cinema Poetica dan Rangkai.