afi_logoafi_logo

MENGAPA DAN BAGAIMANA

Sinema hidup lewat kerjasama. Apresiasi Film Indonesia terlahir sebagai kerja pengetahuan dan berkembang sebagai simpul berbagai kegiatan dan jaringan perfilman.

mengapa banner

KOLABORASI PENDATAAN DAN PENAYANGAN

Pertanyaan tentang cakupan sinema Indonesia seringnya terbentur pada ketersediaan informasi. Selama satu dekade terakhir, hadir sejumlah inisiatif untuk menghimpun data tentang perfilman Indonesia. Tantangan utamanya adalah merangkai berbagai potongan informasi yang berhasil dihimpun menjadi suatu wawasan terpadu. Perihal ini sudah ada sejumlah titik terang, walau masih dalam proses. Setidaknya, pada hari ini, kita bisa dengan tajam menunjuk potensi dan capaian perfilman Indonesia di industri domestik dan panggung dunia. Apresiasi Film Indonesia (AFI) memperkaya khasanah yang sudah ada tentang film Indonesia dengan mengungkap capaian dan perkembangan perfilman di tingkat akar rumput.

Landasan Program

Objek penelitiannya: komunitas film. Dengan rupa-rupa dinamika sosial yang ada di Indonesia, istilah ‘komunitas’ tentunya bisa dimaknai dalam berbagai bentuk. Sebuah komunitas bisa berwujud kumpulan informal, bisa juga suatu organisasi dengan kerangka program dan legal yang tertata. Berdasarkan pengalaman pada riset sebelumnya, wujud komunitas film bisa merentang dari kelompok ekstrakurikuler di kampus dan sekolah, perkumpulan produksi, penyelenggara layar mandiri, kelompok hobi, grup studi, himpunan penonton, hingga kolaborasi suami-istri. Keragaman bentuk ini yang coba ditelusuri dalam penelitian Apresiasi Film Indonesia.

Kerangka penelitannya: realitas material. Program ini menerjemahkan kegiatan komunitas film dalam serangakaian variabel yang bisa diukur terkait status legal, pengelolaan dana, keterlibatan anggota, pemanfaatan ruang, pemakaian peralatan, produksi karya, penyelenggaraan acara, hingga mitigasi risiko. Dengan berfokus pada aspek-aspek konkret dari kegiatan dan keberadaan komunitas film, penelitian ini diharapkan bisa menghasilkan wawasan yang relevan dan bisa ditindaklanjuti. Selain sebagai produk pengetahuan, hasil penelitian ini bisa turut berperan sebagai acuan bagi pemerintah, pelaku perfilman, dan berbagai pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam pemajuan budaya sinema di Indonesia.

Penelitian AFI secara spesifik menargetkan komunitas yang aktif berkegiatan produksi dan/ atau ekshibisi film. Kedua kegiatan ini kami tempatkan sebagai pondasi budaya sinema. Selama ada sekumpulan orang yang membuat dan menonton film secara berkelanjutan di suatu kota, maka ada dasar yang kokoh untuk pemajuan budaya sinema. Rekam jejak produksi dan ekshibisi film pula yang menjadi dasar kami memilih sepuluh kota sasaran.

Kolaborasi Pendataan dan Penayangan

Penelitian AFI berlaku secara kuantitatif dan kualitatif. Kerangka, rencana, dan dokumen kerja riset dirumuskan melalui focus group discussion di Jakarta pada 11-13 Juli 2022. Tim program mengundang sepuluh pelaku perfilman dari sepuluh kota, yang dianggap memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang ekosistem perfilman di Indonesia, sebagai rekan diskusi. Setiap narasumber juga diarahkan untuk berbagi wawasan seputar bidang yang mereka geluti, dari produksi, ekshibisi, pendidikan, hingga pendanaan film. Materi presentasi setiap narasumber turut menjadi bahan pertimbangan tim riset dalam menyusun rencana kerja. Perangkat kerja yang sama, dengan pembaharuan di sejumlah variabel, kembali digunakan untuk AFI 2023, yang proses penghimpunan dan pengolahan datanya merentang dari April hingga Agustus 2023.

Pendataan kuantitatif menggunakan metode purposive sampling. Berkolaborasi dengan pegiat komunitas di setiap kota, tim riset menyebarkan kuesioner untuk diisi oleh komunitas yang berkegiatan produksi dan/atau ekshibisi film. Sampel dibatasi pada komunitas yang punya karya atau kegiatan pada tiga tahun terakhir. Hasil dari pendataan ini kemudian diolah sebagai bahan untuk infografis dan tulisan panorama perfilman setiap kota.

Pendataan kualitatif melibatkan pegiat komunitas di setiap kota. Tim riset berkolaborasi dengan penulis lokal untuk mewawancarai lima narasumber dari setiap kota, untuk menggali wawasan mengenai keberdayaan komunitas terkait sumber daya, rentang kegiatan, peningkatan kapasitas, hingga pengelolaan risiko.

Selama proses pendataan, tim riset turut menghimpun arsip foto dan karya film. Materi arsip dipilah untuk pendamping tulisan hasil pendataan kualitatif, sementara karya film dikurasi dan diurus perizinannya untuk tayang publik secara gratis di layar digital Rangkai.

Penguatan Pelaku dan Jaringan Perfilman

Hasil riset berperan sebagai acuan bagi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk turut berkontribusi dalam penguatan pelaku dan jaringan perfilman. Dalam rencana kerja AFI, upaya penguatan tersebut diberi tajuk Tindak Lanjut, yang wujudnya bisa merentang dari lokakarya atau pelatihan hingga forum mediasi. Program yang dilaksanakan bersifat jangka pendek, dengan diskusi dan proyeksi untuk kepentingan jangka panjang. Bentuk program dirumuskan berdasarkan hasil riset di lapangan, yang kemudian dielaborasi melalui diskusi langsung dengan stakeholder di kota sasaran, baik dari lingkar perfilman maupun pemerintahan daerah.

© 2023 Apresiasi Film Indonesia. All Rights Reserved. Bekerjasama dengan Cinema Poetica dan Rangkai.